Berbuka dengan Kurma ?

[tulisan ini di upload pada Ramadhan 2008 ]

Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat  “Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,”
katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian ?

Dari Anas bin Malik ia berkata : Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat,

jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering
beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma.
Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air.

Samakah kurma dengan yang manis-manis ?
Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) .

Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai
makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis ?
Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham

umum  di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah sunnah Nabi.

Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan
gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa disunnahkan minum atau makan yang manis-manis.
Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.


Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis.

Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan . Tapi
kurma yang didatangkan ke Indonesiadalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa manisan kurma, bukan
lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam
perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun

ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan ?

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat
kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga
makan waktu.

Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat.
Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara indeks glikemika (glycemic index/GI) saja.


Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks
dalam  makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan
respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gayahidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik
yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa ?
Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang

paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks
glikemiknya) , sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon
untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah ilmu tentang urusan kesehatan jasad manusia.
Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat,
makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban
beliau.

Kenapa bukan kurma ?
Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah manisan kurma, bukan kurma asli.

Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi ?
Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin

dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga
rendah.  Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya  bertambah di daerah-daerah penimbunan
lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan
insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat  seperti buah pir, penuh lemak di daerah pinggang.

Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah sunnah, maka puasa bukannya
malah menyehatkan kita.
Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena

salah memahami hadits di atas, maka efeknya rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.

Ingin Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus.

Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah
kecenderungan tubuh untuk menabung lemak karena dilaparkan. Ketika diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan
masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan justru lebih besar.

Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan
makanan yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.

Respon insulin tubuh akan meningkat bila :


(1)
Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi, makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi

kita di Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).

Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup limapuluh persennya saja.  Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak
ini cukup dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak
atau memakan lemak hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh).

Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.

(2)
Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi, semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya,
makan hanya makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.

(3)
Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali makan.
Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama.

Setelah diet selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya kurus (baca: supaya respon insulin
tidak melonjak) justru harus makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah/ sepertiga porsi biasa, dengan
karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.

Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur:
kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori
makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga teratur untuk membakar lemak berlebih dalam

tubuh, dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam
tubuh kita untuk energi.

Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih
banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari, agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri
dirangsang pertumbuhannya dan kekencangannya dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal.
Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk mengenyangkan perut.

Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan
porsi kecil.   Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana seperti gula, manisan,
minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah out of the question.

Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan balas dendam habis-habisan, ya justru respon insulin kita
juga melonjak dan membuat tubuh jadi menimbun lemak.

Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat
kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin.
Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.

Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan
tenaga diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk
aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga
kita mudah lemas. Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas.

Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita tetap berenergi sampai waktu berbuka. Karbohidrat sederhana,
GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan) , makanan
manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak gula.
Hindari, puasa atau tidak puasa.

Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel,
pir, dan sebagainya. Sekarang suah ngerti kan, kenapa para pemain tenis dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari
sering terlihat ngemil pisang di pinggir lapangan ?
Karena mereka butuh energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul berlemak.  Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan,
tapi respon insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung. Karbohidrat Kompleks,  GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga
tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi fitness.

Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan

cukup untuk  aktivitas satu hari penuh;  respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak cenderung untuk menabung lemak.

Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir
telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar,
dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya
(gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya
biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat-
protein-lemak- air proporsional. Dan tentu tidak untuk balas dendam karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting untuk
melatih melawan keinginan hawa nafsu makan sekenyang-kenyangnya.

Belajar sabar.

Waham Umum

Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, berbukalah dengan yang manis-manis itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas
hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan
yang manis-manis. Pada akhirnya  kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah
masyarakat. Yang jelas, berbukalah dengan yang manis itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan
makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan
berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali
tahu.

Semoga tidak termakan waham umum berbukalah dengan yang manis. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum
tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah:

Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang. Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga

lagi air,  dan sepertiga sisanya biarkan kosong.  Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah
makan, dan  apabila makan tidak hingga kenyang, kata Rasulullah.

Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk
memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga
lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.

(HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Madi Kasib)

Semoga bermanfaat.

Wass.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s