Gurat journey Kangncep-2

SAMA SEPERTI YANG LAINNYA

sama seperti kemarin ketika sedang menikmati indah pagi kota bandung mendekati hari raya ,tersenyum menghirup udara pinggir jalan yang segar terbungkus asap mesin dan kendaraan ,saya berjalan di pinggir trotoar dan orang gila yang sedang duduk dipinggir jalan sambil menikmati sebungkus nasi yang sudah kuning basi, tersenyum menyeringai sambil berkata “sahur-sahur euy”

atau juga sama sepeti kemarin ketika sholat maghrib berjamaah disebuah mushola kecil yang kumuh, yang air wudhunya saja hampir membuat anak saya mau muntah karena bau yang tidak sedap dan kondisi ruangan tempat wudhu yang hitam jorok seperti umumnya, sebuah tamparan yang mendarat di pipi putih dan berseri ketika kita mengatakan bahwa islam agama yang memberi posisi kebersihan sebagian daripada iman,dan kondisi para jemaah yang sebagian besar berisi para orang tua,di daerah yang padat penduduk, tidakkah juga bahwa ini sebuah tonjokan ketika kita meyakini bahwa anak muda adalah penerus bangsa dan 3 hal yang bermanfaat setelah kematian adalah amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh

atau sama sepertinya juga ketika sholat terdapat tempat yang kosong ditengah-tengah shaf lalu kita isi dan disamping kita terdapat orang tua yang terlihatĀ  bloon dan sibuk melihat jam tangan dan memperbaikiĀ  baju selama sholat, terlebih lagi ketika bacaan sujud saja dia tidak hapal malah membaca istigfar,dan Qulhu, tidak kah ini sesuatu yang menusuk ke jantung mengetahui dia adalah seorang tukang parkir didepan pasar yang lebih memperhatikan uang parkir seribuan yang jauh lebih berarti menopang berlangsungnya kehidupaan

atau seperti saat sholat berjamaah yang dipimpin seorang imam muda yang memiliki durasi cukup lama padahal diantara para jemaah terdapat seorang yang cacat dan sudah tua, yang bahkan untuk membaca dan mengucapkan alfatihah secara lirih saja urat-urat mulut harus berbunyi dan gigi berkerat saling bergesek sambil berdiri miring ke belakang karena tidak bisa lagi mengontrol kondisi badan,untuk sebuah sholat yang diperkirakan afdhol

bukankah ini sebuah retorika kehidupan, cacat alam dari sebuah kenyataan, ketidak mampuan toleransi untuk eksis dalam keseharian , atau ketidak berdayaan keadaan untuk merubah kenyataan dalam sesutu yang diyakini oleh seorang individu ??

pikiran kang ncep pun mulai melayang dan mencoba mencerna dengan kebodohan yang dimiliki ternyata ada disisi lain kehidupan keseharian yang membutuhkan kepekaan dalam kemajemukan irama kehidupan harus terus menerus diasah dengan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan bukan hanya sebuah tulisan, danĀ  bahkan berbicara kesebuah corong diatas mimbar dan melalui toa-toa masjid

harus ada tindakan
harus ada usaha,
harus ada keringat yang terurai
dan haris ada fikiran yang terperas
untuk sebuah logika dan perbaikan
mungkin dan semoga bisa dimulai dari sini,di tempat ini,

“dan nikmat manakah dari tuhanmu yang kamu dustakan ?”

wassalam
kang ncep ,,,Cikajang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s