Hermenutika

Hermenetika

Setelah terlepas dari masa kegelapan dan memasuki masa pencerahan (rennaisance), Eropa memasuki masa dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat termasuk ilmu-ilmu filsafat. Kemajuan filsafat juga menyebabkan para intelektual Kristen mempertanyakan konsep ketuhanan yang ada dalam doktrin gereja katolik. Berbagai pertanyaan tentang Tuhan gagal di jawab oleh para teolog. Pernyataan bahwa Yesus adalah tuhan sendiri tidak ditulis secara eksplisit dalam Bible. Tentang tuhan Yesus, Duane A. Priebe berkata “Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah”. Akhirnya konsep tentang tuhan harus di cari dengan hermenetika. Hermenetika adalah suatu metode tafsir yang mengkaji kitab secara tekstual dengan pendekatan historisitas, sehingga dapat diketahui maksud si penulis buku dengan menganalisa kondisi sosial, adat dan budaya tempat penulis tinggal.

Kenapa Hermenetika ? Sudah bukan rahasia lagi bahwa kitab perjanjian baru  ditulis oleh manusia, hal ini dapat dilihat dari nama-nama gospel dalam kitab perjanjian baru yang berupa nama-nama orang seperti markus, matius, dan lainnya. Soal teks, di kalangan cendekiawan Kristen sendiri teks bible dianggap bermasalah. Para pendeta bisa saja bersuara bahwa bible ditulis oleh manusia dengan inspirasi langsung dari Tuhan, tapi tulisan dalam bible menunjukkan adanya individual style. Yang berarti isi dan makna tulisan dalam bible dipengaruhi oleh si penulis. Dan karena si penulis ini adalah manusia maka dia di pengaruhi oleh interaksinya dengan lingkungan sekitarnya, termasuk didalamnya keadaan sosial, adat dan budaya setempat.

Berbeda dengan Bible, al-Qur’an tidak memiliki permasalahan teks. Kesahihan dan keaslian al-Qur’an terjaga dengan adanya tradisi mutawatir, ijma, sistem sanad, qiraat yang bertifikat dan jutaan orang penghafal al-Qur’an. Jadi tidak ada alasan yang logis untuk menggunakan Hermenetika untuk menafsirkan al-Qur’an. Pemaksaan aplikasi Hermenetika terhadap al-Qur’an hanya akan membawa kekacauan terhadap masalah-masalah nilai dan akhlak

Kaum Liberal dan Desakralisasi al-Qur’an

Nasr Hamid Abu Zayd, adalah seorang tokoh muslim liberal yang mengaplikasikan Hermenetika terhadap al-Qur’an. Sebagai seorang Hermenet, Abu Zayd menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai semacam pengarang al-Qur’an. Dalam bukunya Mafhum al-Nash ia menulis bahwa al-Qur’an diturunkan melalui malaikat jibril kepada seorang Muhammad yang manusia. Bahwa Muhammad sebagai penerima pertama, sekaligus penyampai teks adalah bagian dari realitas masyarakat. Ia tumbuh dan berkembangdi Mekkah sebagai anak yatim, dididik dalam suku bani Sa’ad sebagaimana anak-anak sebayanya dikampung Badui. Dengan demikian, kata Abu Zayd, membahas Muhammad sebagai penerima teks pertama, berarti tidak membicarakannya sebagai penerima pasif. Membicarakan dia berarti membicarakan seorang manusia yang dalam dirinya terdapat harapan-harapan masyarakat yangterkait dengannya. Intinya Muhammad adalah bagian dari sosial, budayam dan sejarah masyarakatnya.

Pendapat Abu Zayd ini bertentangan dengan konsep dasar al-Qur’an yang selama ini diyakini oleh kaum Muslimin selama 1400 tahun. Dalam konsepsi Islam, Nabi Muhammad SAW hanya berperan sebagai penyampai wahyu dan tidak mengolah wahyu yang diterimanya. Teks-teks al-Qur’an memang berbahasa arab dan dalam beberapa ayat memang menceritakan tentang budaya saat itu.Tetapi al-Qur’an tidak tunduk pada budaya. Al-Qur’an justru merombak tata bahasa dan budaya arab, serta membangun pola pemikiran dan peradaban baru. Istilah-istilah yang dibawa al-Qur’an, meskipun dalam bahasa arab, tetapi membawa makna baru, yang berbeda dengan yang dipahami kaum musyrikin saat itu. Banyak cerita yang menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh musyrikin arab begitu terpesona dengan keindahan dan keluar biasaan bahasa al-Qur’an, sehingga mereka menyatakan belum pernah mendengar hal serupa sebelumnya.

Pendapat Abu Zayd ini kemudian berdampak pada metode penafsiran al-Qur’an yang dia ajukan, yang menggunakan pendekatan historisitas-budaya. Padahal, ketika kajian historisitas itu digunakan, maka seseorang juga akan dipengaruhi oleh pandangan, metode atau ideologinya. Mungkin saja Abu Zayd menggunakan pola pikir kapitalis atau marxis (komunis-sosialis) dalam memahami sejarah. Dan jika seorang yang memahami sejarah dipengaruhi oleh ideologi atau pola pikir tertentu, maka ia terpaksa memilih sebagian fakta sejarah dan meninggalkan lainnya.

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, dari international Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) mengatakan bahwa metode tafsir al-Qur’an sangat tidak identik dengan hermenetika Yunani, juga tidak identik dengan hermenetika Kristen, dan tidak juga sama ilmu interpretasi kitab suci dari kultur agama lain. Ilmu tafsir al-Qur’an merupakan ilmu asas yang diatasnya dibangun keseluruhan struktur, tujuan, pengertian pandangan dan kebudayaan agama Islam. Prof. Wan juga mengkritik dosen pembimbingnya di Universitas Chicago, yaitu Prof. Fazlur Rahman, yang mengaplikasikan Hermenetika dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.Kata Prof Wan,
“Konsekuansi dari pendekatan hermenetika ke atas sistem epistemologi Islam termasuk segi perundangannya sangatlah besar dan saya pikir agak berbahaya. Yang paling utama saya kira adalah penolakannya terhadap penafsiran yang final dalam sesuatu masalah, bukan hanya masalah agama dan akhlaq, malah juga masalah-masalah keilmuan lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan kekacauan nilai, akhlaq, dan ilmu pengetahuan; dapat memisahkan hubungan aksiologi antar generasi, antar agama dan kelompok manusia. Hermenetika teks-teks agama barat bermula dengan masalah besar : 1) Ketidakyakinan tentang kesahihan teks-teks tersebut oleh para ahli dalam bidang itu sejak awal karena tidak adanya bukti materiil teks-teks yang paling awal, 2) tidak adanya laporan-laporan tentang tafsiran yang boleh diterima umum, yakni ketiadaan tradisi mutawatir dan ijma’ dan 3) tidak adanya sekelompok manusia yang menghafal teks-teks yang telah hilang itu. Ketiga masalah ini tidak terjadi dalam sejarah Islam, khususnya dengan Al-Qur’an. Jika kita mengadopsi satu kaidah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar belakangnya, maka kita akan mengalami kerugian besar, sebab kita akan meninggalkan metode kita sendiri yang begitu sukses membantu kita memahami sumber-sumber agama kita, dan juga telah membantu kita menciptakan peradaban internasional yang unggul dan lama.”

Penerapan Hermenetika liberal terhadap al-Qur’an menyebabkan penafsiran al-Qur’an menjadi bias/ tidak mutlak/ relatif. Sehingga dengan cara ini al-Qur’an bisa disesuaikan dengan tuntutan nila-nilai budaya barat. Mungkin inilah tujuan sebenarnya yang dinginkan oleh kaum liberal dan kaum dekonstruksionis lainnya.

Disarikan dari berbagai sumber
– Wajah Peradaban Barat oleh Adian Husaini
– Jurnal Islamia
http://www.Insistnet.com
Di bantu oleh:
– Bayu A. Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s